efektifitas model quantum dalam pembelajaran sains
Efektifitas Model Quantum
dalam Pembelajaran Sains
A. Pengertian Model Pembelajaran Quantum
Istilah “Quantum” dapat diartikan sebagai interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya (Deporter,2010). Pembelajaran Quantum merupakan istilah terjemahan dari bahasa asing yaitu quantum learning. Quantum Learning adalah kiat, petunjuk, strategi dan seluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta membuat belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat” (Deporter, dkk, 2011).Dengan demikian, pembelajaran kuantum dapat dikatakan sebagai model pembelajaran yang menekankan untuk memberikan manfaat yang bermakna dan juga menekankan pada tingkat kesenangan peserta didik.
Pembelajaran quantum merupakan model pembelajaran yang menyenangkan serta menyertakan segala dinamika yang menunjang keberhasilan pembelajaran itu sendiri dan segala keterkaitan, perbedaan, interaksi serta aspek-aspek yang dapat memaksimalkan momentum untuk belajar. Menurut Deporter, ddk (2010), pembelajaran quantum hampir sama dengan sebuah simfoni yang di dalamnya banyak unsur yang menjadi faktor pengalaman yang mewarnai hasil akhir yang indah.
Wena dalam Triyani (2014) menjelaskan bahwa unsur di dalam model pembelajaran quantum dapat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu konteks dan isi. Kategori konteks meliputi lingkungan yang mendukung, suasana yang memberdayakan, landasan yang kukuh, dan rancangan belajar yang dinamis. Sedangkan kategori konteks meliputi penyajian yang prima dan fasilitas yang memadai.
B. Azas Utama Model Pembelajaran Quantum
Menurut Deporter (2010), azas utama pembelajaran quantum adalah “Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka”. Maksud dari konsep “Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka” adalah bahwa pentingnya memasuki dunia peserta didik sebagai langkah pertama yang harus dilakukan guru dalam pelaksanaan pembelajaran.
Memasuki dunia peserta didik dapat dilakukan dengan membangun jembatan autentik memasuki kehidupan siswa, untuk mendapatkan hak mengajar dari mereka.
Caranya yaitu dengan mengaitkan apa yang diajarkan guru dengan peristiwa, pikiran atau perasaan yang diperoleh dari kehidupan rumah, sosial, atletik, musik, seni, rekreasi atau akademik siswa. Setelah kaitan terbentuk, guru dapat menerapkan konsep “Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita”. Dalam konteks inilah materi pembelajaran dipaparkan, misalnya: kosa kata baru, model mental, rumus, dan lain-lain.
C. Karakteristik Model Pembelajaran Quantum
Budiman (2013) menuliskan beberapa karakteristik umum yang tampak membentuk sosok Quantum Learning sebagai berikut:
1. Berpangkal pada psikologi kognitif, bukan fisika kuantum meskipun serba sedikit istilah dan konsep kuantum dipakai. Oleh karena itu, pandangan tentang pembelajaran, belajar, dan pembelajar diturunkan, ditransformasikan, dan dikembangkan dari berbagai teori psikologi kognitif, bukan teori fisika kuantum. Dapat dikatakan disini bahwa Quantum Learning tidak berkaitan erat dengan fisika kuantum, kecuali analogi beberapa konsep kuantum. Hal ini membuatnya lebih bersifat kognitif daripada fisis.
2. Lebih bersifat humanistis, manusia selaku pembelajar menjadi pusat perhatiannya. Potensi diri, kemampuan pikiran, daya motivasi, dan sebagainya dari pembelajar diyakini dapat berkembang secara maksimal atau optimal. Hadiah dan hukuman dipandang tidak ada karena semua usaha yang dilakukan manusia patut dihargai, kesalahan dipandang sebagai gejala manusiawi. Ini semua menunjukkan bahwa keseluruhan yang ada pada manusia dilihat dalam perspektif humanistis.
3. Lebih bersifat konstruktivistis, nuansa konstruktivisme dalam Quantum Learningrelatif kuat. Malah dapat dikatakan di sini bahwa Quantum Learning merupakan salah satu cerminan filsafat konstruktivisme kognitif, bukan konstruktivisme sosial. Meskipun demikian, berbeda dengan konstruktivisme kognitif lainnya yang kurang begitu mengedepankan atau mengutamakan lingkungan, Quantum Learning justru menekankan pentingnya peranan lingkungan dalam mewujudkan pembelajaran yang efektif dan optimal dan memudahkan keberhasilan tujuan pembelajaran.
4. Berupaya memadukan (mengintegrasikan), menyinergikan, dan mengolaborasikan faktor potensi diri manusia selaku pembelajar dengan lingkungan (fisik dan mental) sebagai konteks pembelajaran. Atau lebih tepat dikatakan di sini bahwa Quantum Learning tidak memisahkan dan tidak membedakan antara apa yang di dalam dan apa yang di luar. Dalam pandangan Quantum Learning, lingkungan fisikal, mental dan kemampuan pikiran atau diri manusia sama-sama pentingnya dan saling mendukung. Karena itu, baik lingkungan maupun kemampuan pikiran atau potensi diri manusia harus diperlakukan sama dan memperoleh stimulan yang seimbang agar pembelajaran berhasil baik.
5. Memusatkan perhatian pada interaksi yang bermutu dan bermakna, bukan sekadar transaksi makna. Dapat dikatakan bahwa interaksi telah menjadi kata kunci dan konsep sentral dalam Quantum Learning. Karena itu, Quantum Learning memberikan tekanan pada pentingnya interaksi, frekuensi dan akumulasi interaksi yang bermutu dan bermakna. Di sini proses pembelajaran dipandang sebagai penciptaan interaksi-interaksi bermutu dan bermakna yang dapat mengubah energi kemampuan pikiran dan bakat alamiah pembelajar menjadi cahaya-cahaya yang bermanfaat bagi keberhasilan pembelajar. Interaksi yang tidak mampu mengubah energi menjadi cahaya harus dihindari, kalau perlu dibuang jauh dalam proses pembelajaran. Dalam kaitan inilah komunikasi menjadi sangat penting dalam Quantum Learning.
6. Sangat menekankan pada pemercepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi. Di sini pemercepatan pembelajaran diandaikan sebagai lompatan kuantum. Pendeknya, menurut Quantum Learning, proses pembelajaran harus berlangsung cepat dengan keberhasilan tinggi. Untuk itu, segala hambatan dan halangan yang dapat melambatkan proses pembelajaran harus disingkirkan, dihilangkan, atau dieliminasi. Di sini berbagai kiat, cara, dan teknik dapat dipergunakan, misalnya pencahayaan, iringan musik, suasana yang menyegarkan, lingkungan yang nyaman, penataan tempat duduk yang rileks, dan sebagainya. Jadi, segala sesuatu yang menghalangi pemercepatan pembelajaran harus dihilangkan pada satu sisi dan pada sisi lain segala sesuatu yang mendukung pemercepatan pembelajaran harus diciptakan dan dikelola sebaik-baiknya.
7. Sangat menekankan kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran, bukan keartifisialan atau keadaan yang dibuat-buat. Kealamiahan dan kewajaran menimbulkan suasana nyaman, segar, sehat, rileks, santai, dan menyenangkan, sedang keartifisialan dan kepura-puraan menimbulkan suasana tegang, kaku, dan membosankan. Karena itu, pembelajaran harus dirancang, disajikan, dikelola, dan difasilitasi sedemikian rupa sehingga dapat diciptakan atau diwujudkan proses pembelajaran yang alamiah dan wajar. Di sinilah para perancang dan pelaksana pembelajaran harus bekerja secara proaktif dan suportif untuk menciptakan kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran.
8. Sangat menekankan kebermaknaan dan kebermutuan proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang tidak bermakna dan tidak bermutu membuahkan kegagalan, dalam arti tujuan pembelajaran tidak tercapai. Sebab itu, segala upaya yang memungkinkan terwujudnya kebermaknaan dan kebermutuan pembelajaran harus dilakukan oleh pengajar atau fasilitator. Dalam hubungan inilah perlu dihadirkan pengalaman yang dapat dimengerti dan berarti bagi pembelajar, terutama pengalaman pembelajar perlu diakomodasi secara memadai. Pengalaman yang asing bagi pembelajar tidak perlu dihadirkan karena hal ini hanya membuahkan kehampaan proses pembelajaran. Untuk itu, dapat dilakukan upaya membawa dunia pembelajar ke dalam dunia pengajar pada satu pihak dan pada pihak lain mengantarkan dunia pengajar ke dalam dunia pembelajar. Hal ini perlu dilakukan secara seimbang.
9. Memiliki model yang memadukan konteks dan isi pembelajaran. Konteks pembelajaran meliputi suasana yang memberdayakan, landasan yang kukuh, lingkungan yang menggairahkan atau mendukung, dan rancangan belajar yang dinamis. Isi pembelajaran meliputi penyajian yang prima, pemfasilitasan yang lentur, keterampilan belajar untuk belajar, dan keterampilan hidup. Konteks dan isi ini tidak terpisahkan, saling mendukung, bagaikan sebuah orkestra yang memainkan simfoni. Pemisahan keduanya hanya akan membuahkan kegagalan pembelajaran. Kepaduan dan kesesuaian keduanya secara fungsional akan membuahkan keberhasilan pembelajaran yang tinggi; ibaratnya permainan simfoni yang sempurna yang dimainkan dalam sebuah orkestra.
10. Memusatkan perhatian pada pembentukan keterampilan akademis, keterampilan hidup, dan prestasi fisikal atau material. Ketiganya harus diperhatikan, diperlakukan, dan dikelola secara seimbang dan relatif sama dalam proses pembelajaran, tidak bisa hanya salah satu di antaranya. Dikatakan demikian karena pembelajaran yang berhasil bukan hanya terbentuknya keterampilan akademis dan prestasi fisikal pembelajar, namun lebih penting lagi adalah terbentuknya keterampilan hidup pembelajar. Untuk itu, kurikulum harus disusun sedemikian rupa sehingga dapat terwujud kombinasi harmonis antara keterampilan akademis, keterampilan hidup, dan prestasi fisikal.
11. Menempatkan nilai dan keyakinan sebagai bagian penting proses pembelajaran. Tanpa nilai dan keyakinan tertentu, proses pembelajaran kurang bermakna. Untuk itu, pembelajar harus memiliki nilai dan keyakinan tertentu yang positif dalam proses pembelajaran. Di samping itu, proses pembelajaran hendaknya menanamkan nilai dan keyakinan positif dalam diri pembelajar. Nilai dan keyakinan negatif akan membuahkan kegagalan proses pembelajaran. Misalnya, pembelajar perlu memiliki keyakinan bahwa kesalahan atau kegagalan merupakan tanda telah belajar; kesalahan atau kegagalan bukan tanda bodoh atau akhir segalanya. Dalam proses pembelajaran dikembangkan nilai dan keyakinan bahwa hukuman dan hadiah (punishment dan reward) tidak diperlukan karena setiap usaha harus diakui dan dihargai. Nilai dan keyakinan positif seperti ini perlu terus-menerus dikembangkan dan dimantapkan. Makin kuat dan mantap nilai dan keyakinan positif yang dimiliki oleh pembelajar, kemungkinan berhasil dalam pembelajaran akan makin tinggi.
12. Mengutamakan keberagaman dan kebebasan, bukan keseragaman dan ketertiban. Keberagaman dan kebebasan dapat dikatakan sebagai kata kunci selain interaksi. Di sinilah perlunya diakui keragaman gaya belajar siswa atau pembelajar, dikembangkannya aktivitas-aktivitas pembelajar yang beragam, dan digunakannya bermacam-macam kiat dan metode pembelajaran. Pada sisi lain perlu disingkirkan penyeragaman gaya belajar pembelajar, aktivitas pembelajaran di kelas, dan penggunaan kiat dan metode pembelajaran.
13. Mengintegrasikan totalitas tubuh dan pikiran dalam proses pembelajaran. Aktivitas total antara tubuh dan pikiran membuat pembelajaran bisa berlangsung lebih nyaman dan hasilnya lebih optimal.
D. Prinsip Model Pembelajaran Quantum
Prinsip utama pembelajaran kuantum berbunyi: Bawalah Dunia Mereka (Pembelajar) ke dalam Dunia Kita (Pengajar), dan Antarkan Dunia Kita (Pengajar) ke dalam Dunia Mereka (Pembelajar). Dalam pembelajaran kuantum juga berlaku prinsip bahwa proses pembelajaran merupaka
permainan orchestra simfoni.
E.
Langkah-Langkah Model Pembelajaran Quantum
Langkah-langkah dari pembelajaran Quantum:
1. Pengkondisian awal
Tahap ini dimaksudkan untuk menyiapkan mental siswa mengenai model pembelajaran kuantum yang menuntut keterlibatan aktif siswa. Melalui pengkondisian awal akan memungkinkan dilaksanakannya proses pembelajaran yang lebih baik. Kegiatan yang dilakukan dalam pengkondisian awal meliputi: penumbuhan rasa percaya diri siswa, motivasi diri, menjalin hubungan, dan ketrampilan belajar.
2. Penyusunan rancangan pembelajaran
Tahap ini sama artinya dengan dengan tahap persiapan dalam pembelajaran biasa. Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini adalah penyiapan alat dan pendukung lainnya, penentuan kegiatan selama proses belajar mengajar, dan penyusunan evaluasi.
3. Pelaksanaan metode pembelajaran kuantum
Tahap ini merupakan inti penerapan model pembelajaran kuantum. Kegiatan dalam tahap ini meliputi T-A-N-D-U-R:
1) Penumbuhan minat (T= Tumbuhkan minat)
2) Pemberian pengalaman umum (A= Alami)
3) Penamaan atau penyajian materi (N= Namai)
4) Demonstrasi pengetahuan siswa (D = Demonstrasi)
5) Pengulangan yang dilakukan oleh siswa (U = Ulangi)
6) Perayaan atas usaha siswa (R = Rayakan)
4. Evaluasi
Evaluasi dilaksanakan terhadap proses dan produk untuk melihat keefektifan model pembelajaran yang digunakan. Langkah- langkah pembelajaran metode pembelajaran ceramah bermakna dan dilaksanakan dengan tahap- tahap:
1). Guru mengecek pengetahuan siswa tentang materi yang akan diajarkan
2). Guru menerangkan dan menyampaikan materi pelajaran di depan kelas dengan metode ceramah, di sini siswa mendengarkan apa yang disampaikan guru dan mencatat hal-hal yang penting di buku tulis.
3). Guru memberikan contoh soal dan mengadakan tanya jawab pada siswa tentang materi..
4). Guru memberikan latihan soal atau memberi pekerjaan rumah.
5). Guru dan siswa secara bersama- sama membahas hasil pekerjaan siswa dan mengambil kesimpulan.
6). Guru mengadakan evaluasi.
F. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Quantum
Kelebihan model pembelajaran :
1. Dapat membimbing peserta didik kearah berfikir yang sama
dalam satu saluran pikiran yang sama.
2. Karena Quantum Teaching lebih melibatkan siswa, maka saat
proses pembelajaran perhatian murid dapat dipusatkan kepada hal-hal yang
dianggap penting oleh guru, sehingga hal yang penting itu dapat diamati secara
teliti.
3. Karena gerakan dan proses dipertunjukan maka tidak
memerlukan keterangan-keterangan yang banyak.
4. Proses pembelajaran menjadi lebih nyaman dan menyenangkan.
5. Siswa dirangsang untuk aktif mengamati, menyesuaikan antara
teori dengan kenyataan, dan dapat mencoba melakukannya sendiri.
6. Karena model pembelajaran Quantum Teaching membutuhkan
kreativitas dari seorang guru untuk merangsang keinginan bawaan siswa untuk
belajar, maka secara tidak langsung guru terbiasa untuk berfikir kreatif setiap
harinya.
7. Pelajaran yang diberikan oleh guru mudah diterima atau
dimengerti oleh siswa.
Kekurangan
Model Pembelajaran
1. Model ini memerlukan kesiapan dan perencanaan yang matang
disamping memerlukan waktu yang cukup panjang, yang mungkin terpaksa mengambil
waktu atau jam pelajaran lain.
2. Fasilitas seperti peralatan, tempat dan biaya yang memadai
tidak selalu tersedia dengan baik.
3. Karena dalam metode ini ada perayaan untuk menghormati usaha
seseorang siswa baik berupa tepuk tangan, jentikan jari, nyanyian dll. Maka
dapat mengganggu kelas lain.
4. Banyak memakan waktu dalam hal persiapan.
5. Model ini memerlukan keterampilan guru secara khusus, karena
tanpa ditunjang hal itu, proses pembelajaran tidak akan efektif.
6. Agar belajar dengan model pembelajaran ini mendapatkan hal
yang baik diperlukan ketelitian dan kesabaran. Namun kadang-kadang ketelitian
dan kesabaran itu diabaikan. Sehingga apa yang diharapkan tidak tercapai
sebagaimana mestinya.
G. Penerapan/Efektivitas Model Pembelajaran Quantum dalam Pembelajaran Sains
Menurut DePorter dan Hernacki dalam Alwiyah (2009: 113), terdapat tiga gaya belajar atau yang disebut dengan modalitas belajar, yaitu sebagai berikut:
1. Visual
Gaya belajar visual adalah belajar dengan cara melihat. Siswa dengan gaya belajar visual akan lebih mudah menyerap pelajaran yang diberikan oleh guru melalui media-media visual seperti poster, gambar-gambar, video, dan lain sebagainya.
2. Auditorial
Gaya belajar auditorial adalah belajar dengan cara mendengar. Siswa dengan gaya belajar auditorial akan lebih mudah menyerap pelajaran yang diberikan oleh guru melalui media-media audio seperti mendengarkan cerita, mendengarkan kaset, ceramah, diskusi, dan lain sebagainya.
3. Kinestetik
Gaya belajar kinestetik adalah belajar dengan cara bergerak, bekerja, dan menyentuh. Siswa dengan gaya belajar kinestetik akan lebih mudah menyerap pelajaran yang diberikan oleh guru melalui praktek-praktek atau praktikum.
H.
Efektifitas Model Pembelajaran Quantum pada Pembelajaran Sains
Berdasarkan karakteristik pembelajaran sains yang telah dikemukakan diatas dan juga prinsip serta langkahlangkah model pembelajaran quantum yang telah dipaparkan, maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa model pembelajaran quantum cukup efektif dalam menjembatani proses pembelajaran Sains agar berjalan dengan maksimal.
Melalui Quantum Learning siswa akan diajak belajar dalam suasana yang lebih nyaman dan menyenangkan, sehingga siswa akan lebih bebas dalam menemukan berbagai pengalaman baru dalam belajarnya. Dengan model pembelajaran ini diharapkan dapat tumbuh berbagai kegiatan belajar siswa sehubungan dengan kegiatan belajar siswa. Dengan kata lain terciptalah interaksi edukatif. Dalam interaksi ini guru berperan sebagai penggerak atau pembimbing, sedangkan siswa berperan sebagai penerima atau yang dibimbing. Proses interaksi ini akan berjalan baik apabila siswa banyak aktif dibandingkan guru.
Dalam model pembelajaran Quantum terdapat kerangka rancangan belajar yang disebut TANDUR (Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, Rayakan). Dalam kerangka belajar ini mengandung makna bahwa dalam proses belajar yang menyenangkan dan bermakna itu harus melalui tahapan yang dapat membawa siswa ke dalam suatu proses yang mampu membuat siswa mengalami sendiri apa yang ia pelajari. Sebisa mungkin membuat proses pembelajaran itu lebih kontekstual agar pemahaman siswa terhadap pembelajaran bukan hanya hal yang bersifat abstrak saja dan siswa mampu menghasilkan sebuah produk berupa pemahaman terhadap konsep – konsep pelajaran yang mampu ia terapkan dalam kehidupan sehari-harinya.
Hal tersebut sejalan dengan sejalan dengan karakteristik pembelajaran sains yang mengutamakan unsur sikap, proses, produk dan juga penerapan. Dalam kerangka TANDUR pada model pembelajaran Quantum mewakili pelaksanaan unsur-unsur pembelajaran sains tersebut. Selain itu model pembelajaran Quantum juga mengikutsertakan bahwa pemberian motivasi, variasi lingkungan belajar, penggunaan alat bantu dan penggunaan musik dalam belajar serta ikatan emosional dalam pembelajaran juga sangat mempengaruhi proses pembelajaran. Dalam pembelajaran sains siswa diharapkan mampu memiliki sikap yang baik serta mampu menjalani proses dan menghasilkan suatu produk yang mampu diterapkan dalam kehidupan, untuk mewujudkan hal tersebut penggubahan suasana dan lingkungan belajar sangat perlu untuk menjaga agar motivasi belajar siswa terus tumbuh dan menetap. Jadi dengan menggunakan model pembelajaran Quantum dirasakan cukup efektif untuk diterapkan pada pembelajaran sains jika dilihat dari kecocokan komponen model pembelajaran tersebut dengan karakteristik pembelajaran sains.

artikelnya sangat menarik. materi apa yang cocok untuk model pembelajaran quantum?
BalasHapusTrima kasih, semua materi cocok, tapi ada kaanya kita harus menginovasikan dengan model yang lain agar lebih tepat sasaran
HapusTrima kasih, semua materi cocok, tapi ada kaanya kita harus menginovasikan dengan model yang lain agar lebih tepat sasaran
HapusArtikel yang sangat menarik. Apakah model ini sudah diterapkan di indonesia.
BalasHapusTrima kasih, dibanyak sekolag yang pebelajarannya berpusat pada siswa memakai model ini
HapusTerimakasih utk post materi ini bu, sangat bermanfaat
BalasHapusSama-sama untuk komentarny
Hapus