Pembelajaran Kolaborasi


1. Pengertian pembelajaran kolaborasi

          Didalam struktur kerja kooperasi ini terjadi proses-proses interaksi antar para anggota kelompok, yang disebut kolaborasi. Kolaborasi ini menurut pendapat Gerlach (1994) adalah : “Collaboration is a philosophy of interaction and personal lifestyle where individuals are responsible for their actions, including learning and respect the abilities and contributions of their peers. Menurut pandangan ini, kolaborasi merupakan suatu landasan interaksi dan cara hidup seseorang dimana individu bertanggung jawab atas tindakannya, yang mencakup kemampuan belajar dan menghargai serta memberikan dukungan terhadap kelompoknya. Melalui aktivitas-aktivitas tersebut, kita dapat mengindentifikasi perilaku-perilaku kolaborasi, menempatkan perilaku tersebut dalam urutan yang sesuai, dan pebelajar mendemonstrasikannya. Hal yang inti berkenaan dengan keterampilan-keterampilan kolaborasi ini adalah kemampuan untuk melakukan tukar pikiran dan perasaan antara pebelajar yang satu sama lainnya pada tingkatan yang sama (Borich,1996).  CPL lebih dikendalikan oleh pembelajar, sedangkan CBL oleh pebelajar. Dalam CPL banyak mekanisme analisis tim dan introspeksi berpusat pada pembelajar sedangkan dalam CBL lebih berpusat pada pebelajar (Panitz,1996). Kagan (1990) mendefinisikan CPL sebagai suatu pendekatan struktural yang berdasarkan pada penciptaan, analisis dan aplikasi struktur yang sistematis, atau mengorganisir interaksi sosial di dalam kelas . Struktur pada umumnya melibatkan satu rangkaian langkah-langkah. Kata kunci penting pendekatan ini adalah pembedaan antara " struktur" dan " aktivitas".
    Dalam CBL, pembelajar memindahkan semua otoritas kepada tim, sementara CPL tidak melakukan hal seperti ini. Kerja kolaborasi adalah suatu proses kerjasama yang dilakukan oleh antar individu maupun antar kelompok, yang saling penuh perhatian dan penghargaan sesama anggota untuk mencapai tujuan bersama. Dalam konteks pembelajaran Robert et.al mengatakan,  pembelajaran kolaboratif adalah pembelajaran yang asaskan koperatif. Sehingga untuk mewujudkan pembelajaran kolaboratif diawali dengan membiasakan siswa dengan pembelajaran kooperatif.  Pembelajaran kooperatif yang didesain oleh guru, akan menjadi awal perubahan di kelas.  Jika siswa terbiasa bekerjasama, saling tergantung satu dengan yang lain untuk memperoleh pengetahuan, maka siswa akan berkembang menjadi siswa-siswa kolaboratif. 
Kolaboratif dapat dilakukan di dalam kumpulan yang besar maupun kumpulan yang terdiri dari empat atau lima orang pelajar. Sedangkan pembelajaran koperatif hanya kelompok kecil pelajar yang bekerja dan memahami secara bersama.  Jadi pembelajaran koperatif adalah satu  bentuk kolaboratif, yaitu kelompok besar belajar bersama untuk mencapai hasil  yang disepakati bersama (Johnson & Johnson, 1989).

2. Karakteristik Pembelajaran Kolaborasi

Myers (1991) memandangcollaborative learning sebagai pembelajaran yang berorientasi "transaksi" ditinjau dari sisi metodologi. Orientasi itu memandang pembelajaran sebagai dialogue antara pebelajar dengan pebelajar, pebelajar dengan pembelajar, pebelajar dengan masyarakat dan lingkungannya. Para pebelajar dipandang sebagai pemecah masalah. Perspektif ini memandang mengajar sebagai " percakapan" di mana para pembelajar dan para pebelajar belajar bersama-sama melalui suatu proses negosiasi. Proses negosiasi dalam pola belajar kolaborasi memiliki 6 karakteristik, yakni:
1. Tim berbagi tugas untuk mencapai tujuan pembelajaran
2.  Diantara anggota tim saling memberi masukan untuk lebih memahami masalah yang dihadapi
3. Para anggota tim saling menanyakan untuk lebih mengerti secara mendalam
4. Tiap anggota tim menguasakan kepada anggota lain untuk berbicara dan memberi masukan
5. Kerja tim dipertanggungjawabkan ke (orang) yang lain, dan dipertanggung-jawabkan kepada dirinya sendiri
6. Diantara anggota tim ada saling ketergantungan. 

3. Keunggulan Kerja Kolaborasi

Hasil penelitian menunjukkan keunggulan pembelajaran kolaboratif, diantaranya dapat meninggikan hasil belajar kelompok dan individu yang lebih mengarah pada metakognatif, munculnya ide–ide baru  dan pendekatan penyelesaian masalah yang sebenarnya di ketengahkan. Selain itu kelas yang dikelola secara kolaboratif lebih termotivasi, mempunyai sifat ingin tahu, ada perasaan membantu orang lain, berkompetisi secara sehat dan bekerja secara individu lebih terarah. Ada beberapa keunggulan yang dapat diperoleh melalui  pembelajaran kolaborasi. Keunggulan-keunggulan pembelajaran kolaborasi tersebut menurut Hill & Hill (1993) berkenaan dengan :
1.      Prestasi lebih Tinggi
Aliran dan pendekatan kognitif telah memandang bahwa kecerdasan sebagi karakteristik atau menjadi cirri-ciri khusus individual. Teori-teori yang lebih mutakhir juga memberi perhatian banyak dan memberikan tekanan pada pengembangan kecakapan social seseorang. Selain memandang kecerdasan bersifat individual, teori baru tersebut melihat sebagai suatu proses dimana individu mengkontruksi dan mengorganisasi tindakan bersama berdasarkan lingkungannya. Doise dan Mugny (1984) telah melakukan penelitian yang mendukung anggapan bahwa interaksi social benar-benar memberikan arahan bagi kemajuan perkembangan kognitif. Penelitian terdahulu yang dilakukan (misalnya, Johnson & Johnson, 1981) menunjukkan adanya bukti empiric yang besar sekali bahwa pengalaman belajar secara kooperatif dapat meningkatkan prestasi akademik lebih tinggi daripada pengalaman belajar individual dan belajar kompetitif. Kedua pakar diatas telah melakukan penelitian terhadap sebanyak 26 kelas yang mencakup data prestasi belajar  pada pebelajar tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah dengan kemampuan dan usia yang beragam serta cakupan bidang kurikulum yang cukup banyak. Kesimpulan, pengalaman belajar kooperatif meningkatkan prestasi belajar lebih tinggi daripada pengalaman belajar individual dan kompetitif. Teori yang lebih mutakhir, berdasarkan hasil penelitian dan bukti eksperimen semua menyarankan bahwa jika sekolah-sekolah ingin memberikan perkembangan kecerdasan secara optimal bagi para pebelajarnya, meningkatkan hubungan sosial diantara pebelajarnya, maka pebelajar itu perlu dilibatkan secara sungguh-sungguh dalam berbagai jenis aktivitas kooperatif. Dengan demikian membelajarkan keterampilan belajar kolaborasi, manajemen dan organisasi kelompok akan menjadi lebih penting daripada hanya membelajarkan dan menanamkan pengetahuan saja.
2.      Pemahaman yang lebih Mendalam
Pembelajaran kolaborasi yang dilakukan mulai di tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi memberikan kepada para pebelajar latihan-latihan bekerja sama dalam kelompok untuk memecahkan sebuah masalah. Kita kadangkala menghadapkan para pebelajar dengan berbagai masalah atau ide dan menuntut mereka memadukan ide-ide atau gagasan tersebut melalui suatu kerja kolaborasi. Perihal ini memerlukan perhatian sungguh-sungguh dan secara terus-menerus memotivasi mereka belajar melalaui kegiatan atau aktivitas kerja sama dan sama-sama kerja. Bentuk interaksi yang digambarkan dalam suasana kerja sama secara transaksional diantara pebelajar merupakan ciri kelas kolaborasi. Suasana pembelajaran kooperasi atau kolaborasi berbeda dengan kelas-kelas konvensional-tradisional yang dikelola secara ketat, yang ditandai suasan diam dan sangat teratur (Diaz, Pelletier, & Provenzo, Jr, 2006).
3.      Belajar lebih menyenagkan
Pebelajar baik yang masih muda belia maupun yang sudah dewasa sama-sama belajar lebih banyak dan merasa senang apabila mereka terlibat dalam situasi belajar kooperasi dan kolaborasi. Pengalaman pribadi kita sendiri tentulah menjadi contoh tentang situasi tersebut. Hal yang paling penting kita sadari bahwa dalam kerja sama atau kooperasi, melakukan komunikasi dan bertukar ide sesame kelompok sebaya tersebut akan menimbulkan merasa senang. Mereka (para pebelajar) benar-benar dituntut memiliki keterampilan social dalam aktivitas kerja sama sewaktu mereka diminta mempertahankan keutuhan pasangan atau kelompok.
4.      Mengembangkan Keterampilan Kepemimpinan
Pembelajaran kolaborasi memberikan kesempatan yang secara terus menerus kepada para pebelajar bagi penegmbangan keterampilan kepemimpinan (leadership skill) dan kerja kelompok. Pebelajar dengan pengalaman-pengalaman semacam ini akan lebih mampu memahami pandangan orang lain dan memiliki keterampilan berinteraksi lebih baik dengan orang lain daripada pebelajar dalam  situasi kompetisi dan individualistic(Johnson & Johnson,1987).
5.      Meningkatkan Sikap Positif
Hasil penelitian menunjukkan bahwa apabila lingkungan distruktur untuk member kemungkinan pebelajar bekerja sama secara kooperatif, mereka akan lebih bersikap positif terhadap sekolahnya, mata ajaran dan terhadap pembelajarannya. Lebih jauh , dalam aktivitas kelompok tanpa melihat perbedaan latar belakang kemampuan dan etnis, pebelajar bersikap lebih positif terhadap  yang lain setelah mereka bekerja sama secara kooperatif daripada mereka yang belajar dalam situasi lingkungan yang distruktur secara kompetitif dan individual. Lingkungan belajar kooperatif juga mendorong harapan-harapan yang lebih positif tentang kerja samanya dengan orang lain dan berperan serta dalam menyelesaikan perbedaan-perbedaan (Cooper dkk.,1980; Johnson & Johnson 1987).
6.      Meningkatkan Harga Diri
Ada bukti penelitian yang menunjukkan bahwa lingkungan belajar kooperatif dapat meningkatkan harga diri pebelajar lebih tinggi daripada struktur situasi belajar tradisional (konvensional). Norem-Hebeison dan Johnson (1981) juga menemukan bahwa pengalaman belajar kooperatif meningkatkan proses yang lebih menyehatkan daripada hasil pengalaman sendiri, dan bahwa sikap terhadap kerja sama cenderung berkaitan dengan penerimaan diri sendiri dan penilaian diri yang positif. Dalam aktivitas pembelajaran kolaborasi, setiap anggota kelompok memiliki kesempatan brbicara dan setiap pandangan mendapatkan penghargaan. Situasi seperti ini dapat meningkatkan citra dan percaya diri individu pebelajar sehingga ia merasa dihargai. Sebaliknya, situasi kompetititf cenderung berkaitan dengan penerimaan diri yang kondisional, dan sikap positif terhadap situasi individulistik cenderung pada penolakan diri.
7.      Belajar lebih Inklusif
Belajar bersama, yang melibatkan pihak lain (inklusif) dalam kelompok belajar kooperatif dan menetapkan lingkungan kelas kolaboratif secara aktif meningkatkan kepedulian dan penghargaan pada pihak lain. Situasi kolaborasi dapat mengembangkan hubungan atau interaksi positif dalam dan antar kelompok sebaya (inklusif), cara-cara mengkomunikasikan gagasan atau ide dan yang paling penting adalah persepektif terhadap orang lain mudah dipahami. Dalam situasi kelompok, setiap pandangan dan pendapat dari setiap anggota (tanpa melihat asal usul) mendapatkan respon dari anggota kelompok lain. Berkenaan dengan hal-hal diatas, pengalaman pembelajaran melalui aktivitas kolaborasi dapat dipakai untuk mngembangkan kesadran dan meningkatkan sikap, misalnya menghargai, kepedulian social, empatik dan seterusnya. Kegiatan pembelajaran ini di arahkan untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan (habits) untuk memahami apa yang dipelajari, sikap ingin melakukan sesuatu, dan keterampilan bagaimana melakukan sesuatu. Hal ini sejalan dengan pandangan (Covey,dalam Medsker & Holdsworth,2001) yang menyatakan bahwa sikap mencakup tiga hal pokok, yaitu : 1) pengetahuan atau knowledge (the what,where,when,and why), 2) sikap atau attitudes (the want to), dan 3) keterampilan atau  skill (the how to).
Belajar kolaborasi secara inklusif sangatlah penting apabila pebelajar di dalam kelas berasal dari latar belakang yang berbeda-beda dan memiliki tingkat kemampuan yang luas. Keberhasilan pemaduan pebelajar luar biasa dalam kelas regular atau konvensional menuntut usah-usaha yang bersifat kolaboratif. Pebelajar dengan kemampuan khusus dapat berperan aktif dalam kelas apabila di dalam situasi kelas yang bekerja secara aktif  mau menerima kehadiran mereka yang berasl dari kelompok luar biasa. Belajar kolaborasi juga memiliki implikasi sangat penting dalam pengembangan hubungan saling menguntungkan dan pemahaman lebih baik antara pebelajar laki-laki dan perempuan (gender). Pembelajaran kolaborasi ini merupakan sarana yang ampuh untuk mengembangkan karakteristik manusia sesuai dengan yang diinginkan, karerna pebelajar belajar melalui kelompok (student-team learning). Pembelajaran kolaborasi dan kooperatif merupakan suatu prosedur pembelajaran dalam hal ini para pebelajara belajar bersama secara berkelompok dan diarahkan untuk mencapai tujuan secara kolektif ( Cruickshank, Jenkins & Metcalf, 2006). Belajar bersama, bekerja melakukan peran-peran sama dalam kelompok dan memecahkan persoalan dengan cara kooperatif meningkatkan harga diri setiap orang karena semua pebelajar dan kooperatif meningkatkan harga diri setiap orang karena semua pebelajar dan pembelajarannya memiliki peran yang sama dan berarti.
8.      Rasa Saling Memiliki
Ada beberapa pebelajar yang tidak memiliki sarana-sarana sosialisasi positif sehingga kondisi ini mungkin tidak sesuai dengan prestasi belajar individu. Situasi belajar seperti ini hanya terdapat dalam lingkungan belajar tradisional ini hanya akan memperoleh kemajuan akademik yang kecil. Bahkan mereka tidak dapat meningkatkan motivasi belajarnya dan mungkin juga merasa tertekan perasaan dan harga dirinya. Mereka terjebak dalam apa yang disebut a self-defeating cycle; untuk memenuhi kebutuhan pengakuan dan rasa memiliki mereka berbuat kacau dan kemudian melakukan suatu perlawanan yang akhirnya mengarah pada masalah perilaku. Sebagai kemungkinana lain, mereka cenderung menarik diri dan mudah menyerah (withdrawal dan give up). Sebaliknya, lingkungan belajar kolaborasi memiliki sejumlah potensi untuk mengatasi hal-hal diatas. Pembelajaran kolaborasi ini memberikan pemenuhan bagi kebutuhan setiap pebelajar baik kebutuhan pengakuan harga diri dan rasa memiliki melalui pelibatan mereka dalam berbagai kegiatan yang bermanfaat. Mereka mengemukakan pendapat,gagasan,saling menghargai, terbuka, dan lebih menekankan cirri kebersamaan untuk mencapai Sharing goals.
9.      Keterampilan Belajar Masa Depan
Latihan-latihan keterampilan atau kecakapan hidup (life skills) perlu diberikan kepada pebelajar sejak awal atau sedini mungkin. Latihan hidup bersama dengan orang lain atau aktivitas bersama, yaitu melalui situasi atau lingkungan belajar kolaborasi. Keterampilan hidup bersama di sekolah sangat diperlukan. Tujuan latihan keterampilan hidup bersama di kelas ini memberikan bukan hanya pada saat pebelajar berada di kelas atau sekolah saja, tetapi juga untuk penyiapan keberhasilan di lingkungan kerja dan bergaul bersama anggota keluarga di rumah. Pebelajar diberikan latihan keterampilan hidup bersama melalui kerja kolaborasi. Kerja kolaborasi ini untuk menyiapkan pebelajar melalui latihan pemecahan masalah baik masalah akademik maupun masalah kontekstual. Kita menyadari bahwa kehidupan pebelajar di kelas tidak dapat dilepaskan dari pebelajar lain, mereka saling tergantung satu sama lain, bekerja sama dan membangun suasana kebersamaan. Melalui suasana kehidupan di dalam kelas inilah, kita siapkan kehidupan pebelajar memasuki kehidupan masa depannya.

4. Peran Pembelajar dalam Pembelajaran Kolaborasi

McCahon & Lavelle, (1998) menyarankan agar dalam collaborative learning, kelas dibagi ke dalam beberapa tim dan tiap tim ditugasi untuk melakukan riset sederhana, kemudian dievaluasi dan didiskusikan kembali di dalam kelas. Tim yang dimaksud adalah: “a group of two to five students who are tied together by a common purpose to complete a task and to include every group member” (Dishon dan O’Leary, 1994). Dalam konteks ini, Benne and Seats (1991) menegaskan bahwa premis mayor dalam suatu tim adalah bahwa setiap orang dalam tim tersebut harus berfungsi sebagai pemain yang kolaboratif dan produktif untuk menuju tercapainya hasil yang diinginkan. Dengan sangat menekankan pentingnya kohesivitas, Duin, Jorn, DeBower, dan Johnson (1994) mendefinisikan "collaboration” sebagai suatu proses di mana dua orang atau lebih merencanakan, mengimplementasikan, dan mengevaluasi kegiatan bersama.
 Peran pembelajar dalam pembelajaran kolaborasi yakni :
1.      Memfasilitasi ( Facilitating)
Pembelajaran merupakan suatu upaya untuk memfasilitasi atau memudahkan belajar pebelajar dalam rangka mencapai tujuannya. Kemudahan ini mencakup penciptaan lingkungan dan kegiatan yang kaya untuk mengkaitkan antara pengalaman baru diterima atau telah dimiliki oleh pebelajar dan pengetahuan sebelumnya (prior knowledge). Di samping itu, tugas pebelajar juga memberikan keragaman kesempatan untuk kerja kolaborasi, dan pemecahan masalah, dan memeberikan kepada pebelajar berbagai tugas-tugas belajar secara autentik. Hal ini pertama kali menuntut perhatian pada lingkungan fisik yang ada. Disamping itu, pembelajar perlu menata   atau menstruktur sumber-sumber dalam kelas untuk memberikan beberapa ragam dan wawasan yang selanjutnya untuk dipakai dan menciptakan karya budaya berdasarkan pengalaman belajar di rumah, masyarakat, serta untuk mengorganisasikan variasi aktivitas belajar. Dengan demikian, suatu pembelajaran kolaborasi sering memiliki keragaman tugas-tugas atau pusat aktivitas yang menggunakan objek-objek keseharian untuk merepresentasikan informasi numerikal dalam cara-cara yang bermakna (meaningful ways) dan untuk melakukan percobaan guna memecahkan masalah nyata.
Fasilitasi dalam pembelajaran kolaborasi juga dapat melibatkan orang lain. Di dalam kelas, pebelajar diorganisasi menjadi kelompok heterogen dengan peran-peran yang berbeda-beda misalnya pemimpin kelompok (team leader), pemberi dorongan atau semangat (encourager) menyatakan kembali tugas yang diberikan (reteller), perekam atau pencatat hasil(recorder), dan juru bicara kelompoknya(spokesperson). Cara lain yang dapat dilakukan oleh guru dalam memfasilitasi belajar klaborasi adalah dengan menetapkan kelas menurut struktur kelas yang berbeda tetapi fleksibel. Tujuannya untuk meningkatkan perilaku kelas dengan mempertimbangkan kesesuaian untuk melakukan komunikasi dan kolaborasi diantara pebelajar. Untuk memfasilitasi interaksi kelompok yang bermutu tinggi, pembelajar mungkin perlu mengajarkan kepada pebelajar dan berikutnya para pebelajar perlu mempraktekkan, kaida-kaidah dan fungsi untuk interaksi dalam kelompok. Akhirnya, para pembelajar untuk memfasilitasi belajar kolaborasi dilakukan dengan cara menciptakan tugas-tugas belajar yang mendorong keberagaman, tetapi yanng diarahkan untuk mencapai standart kinerja tinggi bagi seluruh pebelajar. Tugas-tugas ini melibatkan pebelajar dalam proses berpikir tingkat tinggi misalnya melalui pengambilan keputusan dan pemecahan masalah (problem solving) yang paling baik melalui kolaborasi.
2.      Memberi Contoh ( Modelling)
Pemberian contoh (modelling) menekankan adanya sharing pikiran dan mendemonstrasikannya atau menjelaskan sesuatu. Dalam suatu kelas kolaborasi, modellingini berfungsi untuk melibatkan para pebelajar untuk melakukan kerja sama bukan hanya memikirkan isi bahan yang dipelajarinnya, tetapi juga melibatkan dalam proses komunikasi dan belajar berkolaborasi. Berkenaan dengan isi yang di pelajari, pembelajar mungkin perlu mengungkapkan melalui kata-kata tentang proses berpikir yang mereka gunakan untuk membuat prediksi tentang suatu eksperimen ilmiah, membuat ringkasan sebuah gagasan dalam bentuk kalimat, menjelaskan arti kata-kata yang tidak dikenal, menyajikan dan memecahkan masalah, mengorganisasi informasi yang sangat kompleks, dan seterusnya. berkaitan dengan proses kelompok, pemeblajar mungkin melakukan sharing pikiran, peran-peran, aturan-aturan dan melakukan kerja sama dalam kelas. Misalnya, mengammbil peran sebagai piminan kelompok, pembelajar memberikan contoh (model) berkenaan dengan hal-hal bagaimana mengelola waktu berkelompok, bagaimana mencapai konsensus, bagaimana berkomunikasi yanng efektif dalam berkelompok, bagaimana merancang suatu pendekatan untuk memecahkan masalah dan sebagainya.
3.      Memberi Arahan (coaching)
Dalam pembelajaran kolaborasi, peranan pembelajar di awal kegiatan sangat penting. Guru atau pembelajar menjadikan dirinya panutan bagi pebelajar sehingga mereka (pebelajar) akan mampu melakukan aktivitas secara mandiri dalam bingkai kerja sama dan sama-sama kerja. Setidaknya prinsip-prinsip pendidikan ing ngarso sung tulodho, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani merupakan landasan pendidikan yang masih perlu dijadikan pijakan bagi tegaknya pilar pendidikan bagi warga bangsa ini. Memberikan arahan tidak berarti semata-mata tidak memberikan kepercayaan dan tanggung jawab bagi pebelajar. Arahan ini sekaligus merupakan bentuk latihan tanggung jawab bagi pebelajar. Latihan mencakup pemberian petunjuk, pemberian balikan,mengarahkan kembali usaha-usaha pebelajar, dan membantu pebelajar menggunakan strategi. Prinsip pokok pengarahan adalah ingin memberikan bantuan yang tepat kepada pebelajar apabila diperlukan, apakah banyak atau sedikit sehingga mereka tetap memiliki komitmen tanggung jawab bagi belajar mereka sendiri.

5. Prinsip-prinsip Belajar Kolaborasi

Pembelajaran kolaborasi menekankan adanya prinsip-prinsip kerja. Prinsip-prinsip penting yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran kolaborasi tersebut adalah sebagai berikut :
1.      Setiap anggota melakukan kerja sama untuk mencapai tujuan bersama dan saling ketergantungan.
2.      Individu-individu bertanggung jawab atas dasar belajar dan perilaku masing-masing.
3.      Keterampilan kooperatif dibelajarkan, dipraktekkan dan balikan (feedback) diberikan berdasrkan bagaimana sebaiknya latihan keterampilan tersebut diharapkan.
4.      Kelas atau kelompok didorong ke arah terjadinya pelaksanaan suetu aktivitas kerja kelompok yang kohesif.
Strategi-strategi pembelajaran kolaborasi yang berkaitan dengan prinsip-prinsip tersebut di atas, diterapkan dengan berdasarkan pada adanya saling hubungan satu sama lain, atau dilakukan dengan menerpkan secara berulang ( a cyclical way), misalnya latihan keterampilan kolaboratif atau kooperatif akan kekohesifan dan tanggung jawab.

6. Keterbatasan Pembelajaran Kolaboratif

    Pembelajaran kolaboratif memang memiliki sejumlah keuntungan, tetapi pembelajaran ini bukan berarti tidak memiliki keterbatasan-keterbatasan. Keberhasilan pembelajaran kolaborasi atau kooperasi sangat tergantung pada sejumlah kondisi menurut Cruickshank,Jenkins, & Metcalf (2006) yakni ada lima kondisi :
1. Hasil-hasil penelitian telah menunjukkan bahwa suatu aktivitas pembelajaran kooperatif berhasil, para anggota tidak cukup hanya memberikan jawaban secara sederhana tentang tugas, tetapi yang paling penting mereka harus menjelaskan bagaimana mereka memperoleh jawaban dan mengapa jawaban tersebut benar( Slavin,2002).
2. Setiap Individu anggota kelompok memiliki tanggung jawab terhadap kelompoknya. Adanya suatu ekspresi bahwa harapan satu untuk semua,the one for all, tidak atau belum terbiasa di milki oleh pebelajar. Dengan demikian kondisi yang diharapkan dalam situasi kerja kolaborasi adalah adanya tanggung jawab dari setiap anggota tersebut saling bergantung satu sama lain.
3.      Agar supaya terjadi kerja kelompok atau situasi belajar kooperatif, setiap anggota harus setia pada tugas (stay on task), karena waktu yang diurahkan untuk menunaikan tugas-tugas tersebut secara konsisten berkaitan dengan hasil belajar pebelajar. Sebaliknya, para pebelajar cenderung mengabaikan tugas-tugas manakala pemeblajara tidak “hadir” dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, dalam situasi pembelajaran kolaborasi atau koopperasi kehadiran pembelajaran sangat penting untuk memonitor kerja individu dan kelompok secara teratur selama kegiatan berlangsung.
4.      Dalam setiap kelompok setiap anggota tergantung satu sama lainnya. Dalam proses pembelajaran, pastilah ada pebelajaran tertentu yang menghadapi atau mengalami suatu kesulitan. Apabila terjadi kondisi semacam ini, dalam hal ini pebelajar tidak bekerja dengan baik atu tidak mampu menyelesaikan tugasnya. Brophy dan Good (dalam Cruickshank,dkk.,2006) mengingatkan bahwa bentuk pembelajaran kellompok kecil lebih sulit daripada mengajar kepada kelompok besar atau kelas karena kita akan banyak menghadapi berbagai persoalan manajemen.
5.   Menurut Biemiller (1993) bahwa pengaturan pembelajaran yang mendorong para pembelajara memberikan bantuan kepada yang lain dan pihak lain menerimanya memungkinkan untuk meningkatkan adanya saling ketergantungan. Andaikan kondisi ini tidak terjadi, yaitu tidak adanya saling ketergantungan maka kerja kelompok tidak akan terwujud dan hasilnya tidak produktif lagi.

BAHAN DISKUSI:
1. apakah pembelajaran kolaboratif dapat dikolaborasiiakan dengan model kontekstual? 
2. bagaimana cara memili mata pelajaran yang bisa disesuaikan dengan model kolaborasi pada pelajaranIPA?
3. apa saja langkah-langkah pembelajaran kolaboratif?

Sumber:

Setyosary, Punaji. 2009. Pembelajaran Kolaborasi. Malang:Departemen Pendidikan Nasional.
 Raharjo, Kurniawan B. 2013. Model Pembelajaran Kolaboratifhttp://kurniawanbudi04.wordpress.com/2013/05/27/collaborative-learning/. [25 November 2014].
              . 2013. Model Pembelajaran Kolaborasihttp://www.asikbelajar.com/2013/05/model-pembelajaran-kolaborasi.html. [24 November 2014].

Komentar

  1. Artikel yang sangat menarik. Saya akan menanggapi pertanyaan no 1.apakah pembelajaran kolaboratif dapat dikolaborasiiakan dengan model kontekstual? Bisa di kolaborasikan dengan model kontekstual tergantung gurunya lagi menginovasi ataupun memodifikasi dan disesuaikan dengan materi pelajaran. Terima kasih

    BalasHapus
  2. Assalamualaikum
    Artikel yang sangat menarik
    Saya akan menanggapi pertanyaan nomor 1
    Menurut saya model kolaborasi akan bermakna apabila di kolaborasi kan dengan model lain

    BalasHapus
  3. Jika tidak dikolaborasikan maka keterampilan yang diperoleh siswa hanya sebagian

    BalasHapus
  4. Terimakasih untuk artikel yang bermanfaat ini memberikan referensi tambahan bagi saya

    BalasHapus
  5. Trima kasi sudah mampir keblog saya ....

    BalasHapus

Posting Komentar